LANGKAT, 20 April 2026 – Perjalanan inspiratif ketiga siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Langkat ini bermula dari sebuah pengumuman kompetisi inovasi bergengsi yang dirilis oleh Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). Melihat peluang emas tersebut, Karina, Qaisara, dan Nicky memberanikan diri untuk mendaftarkan riset kondisioner kangkung mereka ke dalam tahap seleksi yang ketat. Berkat orisinalitas ide dan potensi besar dari karya yang mereka kembangkan, inovasi ramah lingkungan ini berhasil memikat dewan juri. Alhasil, saat ini mereka telah resmi menyandang status sebagai nominasi perwakilan sekolah dari Indonesia, bersiap untuk diberangkatkan ke Malaysia guna bersaing di panggung pameran internasional tersebut.
Prestasi membanggakan ini menjadi bukti nyata kesiapan generasi muda Indonesia di kancah global. Ketiga siswi cemerlang ini bersiap untuk memamerkan inovasi kosmetik ramah lingkungan pada ajang bergengsi World Young Inventors Exhibition (WYIE) di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, yang akan berlangsung pada 18 hingga 20 Mei 2026. Mereka berhasil menyulap tanaman tropis yang melimpah, yakni kangkung, menjadi produk perawatan rambut berkualitas tinggi.
Inovasi yang membawa mereka ke panggung dunia ini bernama Water Spinach Bioactive Hair Conditioner. Produk ini merupakan kondisioner rambut bioaktif yang memanfaatkan lendir alami (mucilage) dari daun kangkung (Ipomoea aquatica) sebagai agen pengkondisi utama. Berbeda dengan produk konvensional di pasaran, kondisioner ciptaan mereka hadir sebagai alternatif bebas silikon yang terbukti efektif menghidrasi dan melembutkan rambut tanpa menggunakan bahan kimia sintetis yang keras.
Secara ilmiah, formulasi yang mereka kembangkan terbukti sangat ideal untuk kesehatan rambut dan kulit kepala. Proses ekstraksi air dilakukan pada suhu 60-70°C, yang kemudian diemulsi secara sempurna dengan minyak kemiri dan gel lidah buaya. Hasil uji karakteristik fisik menunjukkan produk ini memiliki tekstur semi-krim berwarna hijau alami dengan tingkat pH stabil di angka 5.2, sebuah tingkat keasaman yang sangat cocok untuk menjaga agar kutikula rambut tetap tertutup dan sehat.
Keberhasilan inovasi ini tentu tidak lepas dari peran sentral Karina Zilda Anwar Lubis, siswi kelas VII.A yang memiliki keingintahuan tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Ide awal ini bermula dari pengamatan kritis Karina terhadap karakteristik kangkung yang menghasilkan tekstur licin berlendir saat diproses. Rasa penasarannya memicu hipotesis awal bahwa lendir tersebut memiliki potensi pelumas alami yang bisa diaplikasikan untuk perawatan tubuh, khususnya untuk mengurangi gaya gesek antar helai rambut yang sering menyebabkan rambut kusut.
Hipotesis tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh melalui sentuhan analitis Qaisara Uzma Bazla dari kelas VIII.A. Qaisara mengambil peran penting dalam mengkaji literatur dan merumuskan komposisi yang tepat agar ekstrak kangkung dapat menyatu dengan bahan alami lainnya. Melalui serangkaian uji coba di laboratorium, ia memastikan bahwa penambahan minyak kemiri mampu meningkatkan kilau rambut secara visual, sementara lidah buaya bertugas memperkuat retensi kelembaban.
Formulasi yang menyatu sempurna ini kemudian diuji konsistensi dan ketahanannya oleh Nicky Adiva Salsabilla, siswi kelas VII.D yang telaten. Nicky bertanggung jawab penuh dalam mengawal uji stabilitas awal dan observasi organoleptik selama masa pengujian. Dedikasinya memastikan bahwa kondisioner semi-krim tersebut tidak hanya memiliki daya sebar yang baik saat diaplikasikan, tetapi juga stabil secara fisik dan nyaman digunakan dengan aroma khas tanaman yang menyegarkan.
Pencapaian luar biasa ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Kepala MTsN 4 Langkat, Syafruddin, S.Ag., MA. “Kami sangat bangga atas keberhasilan Karina, Qaisara, dan Nicky. Ini membuktikan bahwa madrasah tidak hanya unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga mampu melahirkan peneliti muda inovatif yang berdaya saing global. Pihak madrasah, bersama dengan upaya penggalangan dukungan dari pemerintah daerah, akan terus memberikan pendampingan penuh hingga mereka berlaga di Malaysia nanti,” tegas Syafruddin.
Rasa bangga yang sama juga diungkapkan oleh kedua guru pendamping yang setia mengawal proses riset ini, yakni Rahmayanti, S.Pd., Gr. dan Arliyanti Br. Sitepu, S.Pd. Gr. “Proses riset ini menuntut ketekunan luar biasa; anak-anak rela menghabiskan waktu di luar jam pelajaran untuk melakukan ekstraksi dan uji coba berulang kali,” ungkap Rahmayanti. Menambahkan hal tersebut, Arliyanti menegaskan, “Karya mereka sangat potensial. Kami membimbing mereka tidak hanya dalam perumusan produk di laboratorium, tetapi juga melatih kelugasan mereka dalam mempresentasikan gagasan pelestarian lingkungan ini di hadapan dewan juri internasional nanti.”
Keikutsertaan Karina, Qaisara, dan Nicky di ajang WYIE 2026 bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah kampanye nyata untuk gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Mereka membuktikan bahwa solusi perawatan diri berbasis nabati (plant-based personal care) dapat diciptakan dari sumber daya lokal yang murah dan melimpah, sekaligus memberikan nilai ekonomi tambah pada komoditas kangkung. Ketiga siswi inspiratif ini menjadi teladan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk melahirkan inovasi saintifik yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.








