Bonandolok, Siabu, 10 Mei 2026 -Tradisi makan bersama usai panen padi kembali digelar masyarakat Desa Bonandolok, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB itu menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus ruang mempererat hubungan sosial antarwarga di tengah kehidupan modern yang dinilai semakin individualis.
Sejak pagi, warga mulai berkumpul di sekitar masjid desa untuk melaksanakan penyembelihan seekor lembu yang nantinya dimasak bersama. Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh kaum laki-laki di lapangan depan masjid, sementara kaum perempuan dari setiap rumah turut membantu dengan membawa berbagai bahan masakan seperti cabai, serai, santan kelapa, beras, dan aneka bumbu dapur lainnya. Kebersamaan tersebut menciptakan suasana hangat yang jarang ditemukan di tengah kesibukan masyarakat saat ini.
Tradisi tahunan itu juga memperlihatkan kuatnya nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat desa. Warga saling membantu tanpa memandang usia maupun latar belakang keluarga. Setelah masakan selesai sekitar pukul 13.00 WIB, masyarakat mulai datang membawa wadah dari rumah masing-masing untuk mengambil bagian daging yang telah dimasak bersama.
Menjelang siang, lapangan masjid dipenuhi warga yang membawa nasi dan tikar untuk makan bersama. Tradisi tersebut dilakukan berdasarkan kelompok marga, seperti Lubis, Nasution, dan Hasibuan. Masing-masing marga berkumpul di tempat yang telah ditentukan, mulai dari lapangan masjid, sekolah Arab, hingga halaman sekolah dasar desa. Suasana sederhana itu justru menjadi simbol eratnya hubungan kekeluargaan yang masih terjaga di Bonandolok.
Salah satu pengurus kegiatan, Sulhan Lubis (47), mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih terus dipertahankan hingga sekarang. “Kegiatan ini bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga silaturahmi dan kekompakan setelah musim panen selesai. Semua warga ikut berpartisipasi, mulai dari menyiapkan bahan masakan sampai makan bersama,” ujar Sulhan saat diwawancarai di lokasi kegiatan.
Melihat tradisi syukuran panen seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan gotong royong masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman. Kegiatan tersebut tidak hanya menjaga budaya masyarakat, tetapi juga mengajarkan generasi muda untuk tetap peduli terhadap lingkungan sosial dan menghargai nilai persaudaraan yang telah diwariskan oleh para orang tua di desa.







