Panyabungan, 23 April 2026 — Harapan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang layak kembali diuji. Di salah satu rumah sakit di Kabupaten Mandailing Natal, keluhan demi keluhan muncul ke permukaan. Bukan sekadar soal lambatnya penanganan pasien, tetapi juga tentang minimnya komunikasi yang membuat pasien dan keluarga merasa berjalan dalam ketidakpastian.
Dari hasil wawancara dan pengamatan di lokasi, sejumlah keluarga pasien mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang memadai terkait tindakan medis yang dilakukan. Dalam situasi sakit yang seharusnya penuh empati, justru muncul kebingungan yang menambah beban batin. “Kami tidak diberi penjelasan secara jelas tentang tindakan yang dilakukan. Jadi kami bingung dan merasa kurang diperhatikan,” ungkap Rina Siregar dengan nada lirih, menggambarkan kegelisahan yang tak sedikit dirasakan keluarga pasien lainnya.
Fenomena ini juga menjadi perhatian pewawancara, Aulia Rahmi, yang menilai bahwa komunikasi adalah bagian penting dari pelayanan kesehatan. “Pelayanan bukan hanya soal tindakan medis, tapi juga tentang bagaimana tenaga medis menghadirkan rasa tenang dan kejelasan bagi pasien. Ketika komunikasi terputus, kepercayaan pun ikut melemah,” ujarnya dalam sesi wawancara.
Tak hanya itu, aturan pembatasan pengunjung yang sejatinya bertujuan menjaga ketertiban justru menyisakan persoalan baru. Dengan hanya dua orang yang diperbolehkan masuk, keluarga pasien harus bergantian menunggu. Namun sayangnya, fasilitas ruang tunggu yang terbatas membuat banyak dari mereka terpaksa berdiri di lorong rumah sakit. “Memang dibatasi hanya dua orang, tapi tempat menunggunya tidak memadai. Kami jadi kesulitan,” kata Ahmad Lubis, sambil menunjuk area yang dipenuhi keluarga pasien.
Di balik gedung yang masih tergolong baru, kondisi fisik bangunan juga tak luput dari sorotan. Beberapa bagian dinding terlihat mengalami keretakan, sementara aktivitas perbaikan masih berlangsung di sejumlah titik. Situasi ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama bagi pasien yang membutuhkan ketenangan dan rasa aman selama proses penyembuhan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya tentang fasilitas fisik, tetapi juga tentang kepekaan, tanggung jawab, dan amanah dalam melayani sesama. Masyarakat berharap pihak rumah sakit bersama pemerintah daerah dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh. Dengan perbaikan yang tepat, diharapkan rumah sakit dapat kembali menjadi tempat yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menenangkan hati, karena setiap pelayanan yang baik adalah bentuk kepedulian yang membawa keberkahan bagi semua.








