Panyabungan, Minggu 24 April 2026 – Suasana haru dan kebahagiaan menyatu di pelataran Masjid Agung Nur Ala Nur Aek Godang, Desa Parbangunan, . Sebanyak 342 Jamaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Mandailing Natal resmi dilepas menuju Tanah Suci dalam Kloter 6 Embarkasi Medan. Ribuan warga dan keluarga memadati lokasi, menghadirkan momen yang bukan hanya seremonial, tetapi juga penuh makna sosial tentang kebersamaan, harapan, dan perjalanan spiritual.
Di tengah dinamika kehidupan remaja masa kini yang identik dengan kesibukan sekolah dan dunia digital, sosok Muhammad Yunus justru mencuri perhatian. Di usia 17 tahun, ia menjadi jamaah termuda dalam rombongan tersebut. Keputusannya berangkat haji di usia muda menjadi refleksi bahwa panggilan ibadah tidak mengenal batas usia, sekaligus menyentuh kesadaran banyak orang tentang pentingnya memprioritaskan nilai spiritual di tengah arus modernitas.
Yunus, warga Kecamatan Siabu, mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari, termasuk mengikuti manasik haji. Baginya, kesempatan ini adalah amanah besar yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Kisahnya memberi pesan bahwa kesiapan ibadah tidak hanya soal usia, tetapi juga kemauan dan kesungguhan hati dalam memenuhi panggilan Allah.
Bupati Mandailing Natal, H. Saipullah Nasution, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. “Ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik yang prima. Kami minta pola makan, kondisi tubuh, dan waktu istirahat jemaah benar-benar diperhatikan. Petugas medis dan pendamping haji harus siaga 24 jam,” ujarnya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya soal niat, tetapi juga tanggung jawab menjaga diri.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Madina, H. Ahmad Zainul Khobir Batubara, memastikan seluruh persiapan keberangkatan telah rampung. “Kami telah menunjuk petugas khusus TPHI, TPIHI, dan TKHI untuk mendampingi jemaah dari Madina hingga kembali ke tanah air,” katanya. Tahun ini juga menjadi momentum penting karena pengelolaan haji sepenuhnya berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah, menghadirkan harapan baru terhadap peningkatan pelayanan.Pelepasan jamaah yang dipadati warga menjadi gambaran kuatnya ikatan sosial dan doa kolektif masyarakat. Di balik keramaian itu, tersimpan harapan sederhana namun mendalam: agar seluruh jamaah diberi kesehatan, kelancaran, dan kembali dengan predikat haji mabrur. Momen ini sekaligus mengajak generasi muda untuk merenung, bahwa di tengah kesibukan dunia, selalu ada ruang untuk mendekat dan memperbaiki diri tanpa harus menunggu waktu yang dianggap “sempurna.”








