Panyabungan, 21 April 2026 — Minimnya angkutan umum menuju RSU Mandailing Natal kembali menjadi sorotan, bukan sekadar persoalan transportasi, tetapi juga menyentuh sisi ekonomi masyarakat kecil. Di tengah harapan akan layanan kesehatan yang mudah dijangkau, warga justru dihadapkan pada kenyataan pahit: biaya perjalanan yang kian membebani, seolah kesehatan menjadi hal mahal yang tidak semua orang bisa raih dengan mudah.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Perjalanan menuju rumah sakit bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal biaya dan waktu yang harus dikorbankan. Dalam situasi mendesak, keterbatasan angkutan membuat pasien harus menunggu lebih lama, bahkan berisiko memperparah kondisi kesehatan mereka.
Salah seorang pengunjung, Rina Siregar, membagikan pengalamannya saat mengantar anggota keluarganya berobat. “Saya harus menunggu lama untuk mendapatkan kendaraan ke sini. Kadang tidak ada angkutan sama sekali, jadi terpaksa naik ojek dengan biaya lebih mahal,” ungkapnya dengan nada lelah. Cerita ini bukan satu-satunya, ia menjadi gambaran kecil dari keresahan yang dirasakan banyak warga lainnya.
Pewawancara, Aulia Rahmi, menilai bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. “Ketika akses menuju rumah sakit saja sulit, maka yang terdampak bukan hanya kesehatan, tapi juga kondisi ekonomi masyarakat. Ini seperti dua beban yang harus ditanggung sekaligus,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa persoalan ini seharusnya menjadi perhatian bersama, bukan hanya individu, tetapi juga pihak yang memiliki kewenangan.
Minimnya transportasi juga berdampak pada efektivitas pelayanan medis. Pasien yang datang terlambat tentu membutuhkan penanganan lebih serius, bahkan berisiko lebih tinggi. Dalam kondisi seperti ini, akses yang terhambat seolah menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang kemudahan untuk mencapainya.
Situasi ini mengajak kita untuk lebih peduli dan melihat persoalan dari sisi kemanusiaan. Kemudahan akses bukan sekadar kebutuhan, tetapi bentuk kepedulian terhadap sesama. Harapannya, langkah nyata dapat segera dihadirkan, agar setiap warga, tanpa terkecuali, dapat merasakan layanan kesehatan dengan lebih layak, karena pada akhirnya, kebaikan yang dihadirkan untuk orang lain akan kembali sebagai kebaikan bagi semua.








