Kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar kembali terjadi dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terutama para pengemudi kendaraan umum dan pelaku usaha transportasi. Sejumlah SPBU dilaporkan mengalami antrean panjang hingga berjam-jam, bahkan tidak sedikit kendaraan yang harus pulang tanpa mendapatkan bahan bakar.
Kondisi ini diduga terjadi akibat keterbatasan kuota distribusi serta meningkatnya kebutuhan solar di lapangan, terutama untuk sektor transportasi dan logistik. Selain itu, adanya dugaan penyaluran yang tidak tepat sasaran juga memperparah situasi kelangkaan di beberapa titik distribusi.
Salah satu warga yang merupakan sopir truk dengan inisial R.A mengatakan bahwa kondisi ini sudah sangat mengganggu aktivitas kerja sehari-hari. “Kami harus antre dari pagi, tapi sering kali solar sudah habis sebelum giliran kami tiba,” ujarnya saat diwawancarai. Ia berharap pemerintah dan pihak terkait segera menambah pasokan serta memperketat pengawasan distribusi.
Sementara itu, seorang pengelola SPBU berinisial S.T menjelaskan bahwa pihaknya hanya menyalurkan sesuai kuota yang telah ditetapkan. “Kami tidak bisa menambah stok sendiri. Kalau kuota habis, kami harus menunggu pengiriman berikutnya,” katanya.
Kelangkaan solar ini berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional transportasi, keterlambatan distribusi barang, serta menurunnya pendapatan para sopir dan pelaku usaha kecil. Situasi ini juga memicu keluhan dari berbagai kalangan masyarakat yang bergantung pada bahan bakar tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah strategis, seperti penambahan kuota, pengawasan distribusi yang lebih ketat, serta penindakan terhadap penyalahgunaan solar bersubsidi agar kelangkaan tidak terus berulang.








